Minggu, 29 Mei 2016

Mengapa Website Pemerintah Mudah Terkena Retas/Hack ?



Defacer setiap hari selalu mencari celah keamanan website agar bisa di deface, melakukan penelitian terhadap sourcecode yang ada, melihat update vulnerability dari website-website security yang ada di jagad raya. Berdiskusi di forum untuk menemukan dan memecahkan sesuatu yang tidak bisa dipecahkan. Hal inilah yang biasanya hampir tidak pernah dilakukan oleh Webmaster & Administrator. Defacer, bisa saja terdiri dari banyak orang yang berbeda-beda dan berasal dari lokasi mana saja di dunia ini, misalkan: Indonesia, Turki, Brazil, India, Tunisia, dsb. Oleh sebab itu bisa kita golongkan bahwa defacer merupakan sebuah kumpulan orang banyak.
Administrator / Webmaster biasanya terdiri dari beberapa orang saja, bisa 1-3 orang saja. Administrator / Webmaster bertugas untuk mengatur dan mengurus website. Namun, entah kenapa kebanyakan webmaster & administrator website pemerintah Indonesia kebanyakan menggunakan layanan instant public (hosting, opensource cms, dsb), alangkah baiknya bila situs-situs pemerintah memiliki suatu badan tersendiri yang mengurusi hal ini (dalam bayangan).
Dari penjelasan di atas, terdapat beberapa kelebihan Defacer daripada Webmaster:
  1. Defacer unggul dalam jumlah, karena defacer bisa siapa saja di dunia ini.
  2. Defacer bergerak setiap hari mengikuti perkembangan security.
  3. Defacer mencoba dan melakukan research terdahap kelemahan-kelemahan di website setiap saat.
Kita bisa melihat beberapa website pemerintah Indonesia yang di hack disini:http://zone-h.org/archive/filter=1/domain=go.id/fulltext=1/page=1
Nah, di sini saya akan sedikit menjelaskan 'Mengapa website mudah terkena hack?
  1. Penggunaan CMS yang free dan opensource tanpa adanya modification. Sehingga keseluruhan konfigurasi menggunakan default konfigurasi, hal ini memudahkan para defacer untuk menemukan informasi file, directory, source, database, user, connection, dsb.
  2. Tidak updatenya source atau tidak menggunakan versi terakhir dari CMS. Hal ini sangat rentan, karena security issue terus berkembang seiring masuknya laporan dan bugtrack terhadap source, kebanyakan hal inilah yang menjadi sebab website mudah dideface.
  3. Tidak pernah ada research yang mendalam dan detail mengenai CMS sebelum digunakan & di implementasikan. Sehingga pemahaman dan pengetahuan dari webmaster hanya dari sisi administrasinya saja, tidak sampai ke level pemahaman sourcecode.
  4. Tidak adanya audit trail atau log yang memberikan informasi lengkap mengenai penambahan, pengurangan, perubahan yang terjadi di website baik source, file, directory, dsb. Sehingga kesulitan untuk menemukan, memperbaiki dan menghapus backdoor yang sudah masuk di website.
  5. Jarang melakukan pengecekan terhadap security update, jarang mengunjungi dan mengikuti perkembangan yang ada di situs-situs security jagad maya. Sehingga website sudah keduluan di deface oleh defacer sebelum dilakukan update dan patch oleh webmaster.
  6. Kurangnya security awareness dari masing-masing personel webmaster & administrator. Sehingga kewaspadaan terhadap celah-celah keamanan cukup minim, kadangkala setelah website terinstall dibiarkan begitu saja. Kurangnya training dan kesadaran akan keamanan website seperti ini akan menjadikan website layaknya sebuah istana yang tak punya benteng. Semoga bermanfaat ^_<

2 komentar: